Makna Ngaben Dalam Agama Hindu

- 14 Juli 2020, 07:39 WIB
Ngaben (kremasi) /Doc I Made Sudarmayasa

WARNAAMEDIABALI - Mengapa harus ngaben, nyekah dan ngelinggih. Roh orang meninggal tidak akan pernah iklas melanjutkan perjalanan di sunia loka semasih terbelit keterikatan.

Baik keterikatan akan :

- Kesenangannya,
Kesenangan yang membuat ketergantungan sehingga melekat.
Semisal semasih hidup ketergantungan meminum minuman beralkohol. Setelah kematian dan belum diaben, selagi menunggu jasadnya di kuburan akan selalu kehausan dan mencari-cari minuman alkohol untuk memuaskannya. Bila menemui orang meminum alkohol akan diganggunya sekedar untuk mendapatkannya. Itu sebabnya para peminum alkohol metabuh/menuang sedikit minumannya saat awal akan mulai meminum alkohol.
Begitu pula dengan kesenangan-kesenangan yang lain.

- Keluarganya,
Kecintaan yang dalam kepada keluarga.
Suksma sarira berisikan panca tan matra (pengaruh pengaruh idriya dan kecintaan ketika masih hidup). Roh yang suksma sariranya belum hancur akan selalu meminta tolong, rindu, kangen kepada keluarganya yang disampaikan melalui mimpi atau isyarat-isyarat tertentu kepada keluarga yang bisa ia hubungi (memiliki keterhubungan energi). Kalau tidak meminta tolong kepada keluarganya, terus kepada siapa lagi ?
Permintaan tolong juga bisa terjadi karena pengembalian panca maha bhuta dan panca tan matra yang sudah dilakukan belum sempurna pada pengabenan dan penyekahannya.

Baca Juga: Anak Pantai di Kuta Mencoba Bertahan di Tengah Ombak Wabah Covid-19

Sekilas tentang memimpikan orang meninggal.
Dalam Lontar Tutur Panus Karma, disebutkan bahwa Kandapat akan keluar dari tubuh manusia ketika tidur pulas. Maka mereka agar distanakan di pelangkiran kamar tidur. Pelangkiran itu diisi daksina dan setiap bulan Purnama diperbaharui. Jika tidak, maka Kandapat akan kelayapan ke mana-mana, dan ini yang mempengaruhi roh/ atman masuk ke dalam alam pikiran, menimbulkan mimpi. Mimpi tentang keluarga yang sudah meninggal disebabkan selain karena Kandapat tidak disediakan tempat, juga disebabkan karena ketika upacara kematian (dikubur atau di bakar) belum dibuatkan upacara "Pegat-sot" yaitu acara perpisahan antara roh yang mati dengan keluarga yang masih hidup. Dan bisa juga karena belum di aben.

Baca Juga: 402,56 Miliar Untuk Tingkatkan Jalan Kawasan Strategis Pariwisata Nasional

Hal serupa juga disebutkan dalam Aji Maya Sandi.
Saat kita tidur, Sang Hyang Manon dan Sang Hyang Atma keluar dari tubuh kita dan duduk didada. Sang Hyang Atman bisa melihat ke masa lalu dan masa depan. Dan itu menjadi mimpi. Bila roh orang meninggal bisa menampakkan dirinya, maka akan terlihat oleh Sang Hyang Atma dan ikut dalam mimpi.
Bila hanya Sang Hyang Manon yang keluar, mimpinya gak karuan-karuan.
Bila Sang Hyang Tungguning Urip (suksma sarira) ikut keluar, maka manusia itu mati.
Bila Sang Hyang Manon dan Sang Hyang Atma bermain main (ancog-ancog) diatas dada oleh suatu sebab akan menjadi ketindihan (neenan), antara sadar dan mimpi bergiliran.

Baca Juga: Tak Peduli Pandemi, Oknum PT PNM Adakan Touring

- Stula sarira,
Bersama stula sarira sang roh berkarma dalam petualangannya untuk memurnikan diri dan bersama-sama merasakan suka, duka, lara dan pati sebagai buah karma atas kehiduoannya yang terdahulu. Oleh karena itu kecintaan dan kesetiaan sang roh sangatlah dalam. Semasih mampu ia kenali, akan ditungguinya terus menerus. Saat mana sudah tidak dapat ia kenali lagi barulah ditinggalkan untuk melanjutkan petualangannya agar bisa menyatu dengan Hyang Widhi. Oleh sebab itu, semakin cepat hancurnya stula sarira dan kembali ke Panca Maha Bhuta, semakin cepat sang roh dapat melanjutkan petualangannya.

Halaman:

Editor: Bayu Ardiansyah

Sumber: Lontar Tutur Panus Karma


Tags

Komentar

Terkini

X